Menyambut pagiku. Menyingkapkan tirai jendela hati ini. Hening, damai.
Keadaan kini telah berbeda, aku kini mencoba untuk izinkan seseorang tuk
mengisi kekosongan hatiku, sudah lama aku berharap tuk dapat menggores cerita
cinta lagi meski tak lagi dapat tuk menyambung cerita lama.
Tak dapat aku pungkiri. Memulai menjalani cerita cinta bersamanya kini, aku
selalu terbayang peristiwa masa lalu. Entahlah, mungkin ini hanya perasaan aku
yang masih belum sepenuhnya melupakan masa lalu. Dia yang dulu selalu menyita
banyak ruang di otakku, dan aku pun tak tahu harus berapa lama lagi aku
merasakan rasa sakit yang terpendam jauh di lubuk hatiku yang terdalam. Dia
seperti cahaya yang selalu mampir di kala mentari mulai menyapaku, dan membuatku
terus mengingat tentang dalam benakku. Mungkin ini merupakan kisah cinta kami
yang layak ku simpan dalam memori otakku. Yah, memang begitu. Namun, kini aku
telah temukan dia yang aku harapkan selalu menjadi alasan di tiap senyumku.
Untuk masa lalu. Aku memang tak boleh menyalahkan siapapun, bila aku harus
menyalahkan seseorang, pasti yang pertama itu adalah Diriku sendiri. Aku tak
bisa menyalahkan Tuhan maupun engkau yang kini telah menjadi kenangan, aku tahu
Tuhan mempertemukan kami itu pasti ada hikmahnya. Mungkin memang bukan dia yang
terbaik, dan kini Tuhan mempertemukan ku dengan seseorang yang bisa terima aku
apa adanya. Aku hanya berharap tak akan mengulang kembali kesalahan di masa
lalu.
‘Mantan’ bukanlah sampah, namun sosok yang pernah menjadi seseorang paling
spesial dalam hidup. Tanpanya mungkin kita tak tau rasanya sakit hati. Walaupun
tak meninggalkan bekas luka, namun termasuk ke dalam sakit yang sulit diobati.
Tanpa adanya mantan, mungkin tidak bisa menciptakan kenangan-kenangan yang masih
dikenang sampai saat ini.