Minggu, 12 Juli 2015

PK in Action: 1001 Cara Indonesia Berbagi


Pembagian Takjil di Kawasan KM 0 Malioboro


Indonesia terbentang luas dari Sabang hingga Marauke, dimana masih banyak wilayah tersembunyi yang menyimpan kemirisan dalam hal kehidupan sosial. Kemiskinan merupakan salah satunya. Beasiswa Pendidikan Indonesia Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (BPI LPDP) Kementerian Keuangan Republik Indonesia melalui awardee-nya yang tersebar di seluruh tanah air, berkomitmen untuk terus berkontribusi membangun indonesia.

Bermula dari hal kecil, PK in Action yang dimotori oleh PK-25 (Persiapan Keberangkatan Angkatan 25) yang diselenggarakan ini merupakan bentuk nyata untuk berkontribusi menumbuhkan rasa peduli terhadap lingkungan sosial. PK in Action ini adalah kegiatan lanjutan dari SCC (Social Creative Contributif) angkatan PK-25 yang mana SCC sebelumnya diselenggarakan di salah satu desa yang terletak di daearah Jawa Barat.

Mengusung tema: “1001 Cara Indonesia Berbagi”, yang mana kegiatan ini terbagi atas dua tahap yaitu yang pertama membagikan lebih dari seribu takjil (bertepatan dengan bulan Ramadhan) untuk kaum du’afa dan bagi mereka yang membutuhkan. Kedua, PK in Action ini akan menyumbangkan buku-buku untuk siswa kurang mampu yang membutuhkan di daerah pedesaan.

Kegiatan pembagian lebih dari seribu takjil yang diselenggarakan pada hari Sabtu di Titik KM 0, kawasan Malioboro Yogyakarta (27/6) berlangsung tertib dan terkendali. “Hari ini kita akan membagikan lebih dari seribu takjil untuk masyarakat yang membutuhkan”, ungkap Andi Mustari, salah seorang dari panitia kegiatan PK-25. Kegiatan yang baru dimulai pukul 16.30 tersebut langsung mendapatkan sambutan dengan antrian panjang.

Masyarakat dari berbagai kalangan yang sedang berada di kawasan padat penduduk tersebut sontak menyerbu stand tempat berlangsungnya pembagian takjil. Mulai dari kalangan pengemis, pengamen, pedagang, bahkan pengunjung yang kebetulan hadir di kawasan tersebut. Selain pembagian takjil di tempat, panitia juga membagikan takjil di jalan raya dan perempatan lampu merah di kawasan monumen KM 0.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh beberapa angkatan PK, diantaranya PK-24, PK-27, PK-29, PK-30, PK-31, dan Awardee Yogyakarta yang turut menjadi partisipan. Kegiatan ini juga untuk mempererat tali silaturahmi antar Awardee. Setelah kegiatan selesai diselenggarakan para Awardee yang hadir berbuka puasa bersama.

Penulis: Nikodemus Niko
Awardee Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP

Stopping Drug Abuse




Nico Ajah

Indonesia is a big international market in the world. Indonesia has many problems in the market level. One of these are illegal drug market. The root of drug abuse in Indonesia is illegal drug market. Drug abuse in Indonesia must be done in many ways.

Kamis, 18 Juni 2015

Guru(ku)


Sumber: http://nasional.news.viva.co.id
 
Oleh: Nikodemus Niko

“Ibu senang kau berada disana”, ujarnya melalui pesan teks di App. Blacberry Massanger-ku.
Pesan itu membuatku tersentak kaget, bagaimana tidak? Ia mengomentari foto yang kujadikan display picture—fotoku sedang berpose berada di sebuah universitas termasyur di Indonesia. Iya, disanalah aku mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi Master.
“Terima kasih, Bu. Siapa dulu dong Ibu Gurunya!”, balasku sembari menyisipkan emoticon *smile* pada akhir kalimatku.
“Ah, kamu. Ya tidak lah, itu karena kamu yang hebat”, dia malah memujiku. Yah, begitu lah sewajarnya seorang guru. Tidak mau mengakui bahwa siswanya hebat bukan lah karenanya. Bahkan dia tak mengakui bahwa aku mengenal mengenal ilmu karenanya.
Guru. Begitulah kebanyakan orang kenal namanya. Bagiku, seorang guru bukan saja mereka yang berada di kelas dan mengajariku teori-teori yang tak jarang aku tak mengerti. Namun guru lebih dari pada mereka yang memberikan arti sebuah kehidupan—termasuk ayah dan ibu yang merupakan guru utama dalam hidupku.

Kamis, 26 Februari 2015

Deru Haru Sang ‘Prastya Mandala’









Oleh: Nico Ajah
Cinta itu terkadang bermula di awal cerita.
Bukan untuk kali ini, saat cerita itu berada di akhir kisah.
Bukankah seharusnya demikian?
Cerita itu—antara jarak yang menenggelamkan rindu dalam kenangan—kini.
Tidak! Bahkan hingga detik ini pun cerita itu masih tetap saja abadi—terngiang, menari di pelupuk mata.

Cerita yang hampir Terlupakan




Lama....
Lama sekali aku tidak lagi memikirkannya.
Namun, seketika aku merindukan segala tentangnya. Candanya, saat dia mencubit hidungku hingga memerah bagai kepiting rebus.
Senyumnya, pagi itu, mataku mengekor sekedar untuk mencuri senyuman terindahnya. Pelukan hangatnya yang selalu selimuti kulitku,

Senin, 23 Februari 2015

Berlian di Ujung Negeri


Oleh: Nikodemus Niko

Perbatasan Jagoi Babang Sebagai Beranda Negara                                               
Perbatasan negara merupakan manifestasi utama kedaulatan wilayah suatu negara. Wilayah perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) umumnya jauh dari jangkauan modal sehingga kondisinya tertinggal dalam berbagai hal dibandingkan wilayah lain. Keadaan ekonomi yang tertinggal di wilayah perbatasan bukanlah situasi yang sangat khusus, karena keadaan serupa dapat ditemui di daerah lain yang bukan perbatasan. Namun wilayah perbatasan mempunyai arti penting tersendiri.

Uang Kuliah Tunggal: Ribet


Oleh: Nikodemus Niko


Katanya biaya pendidikan saat ini paling murah, tapi masih banyak yang hanya mampu ‘berkhayal’ untuk kuliah.
Kalimat tersebut menjadi pengantar singkat tulisan ini. Kalimat singkat itu muncul dalam benak saya, saat saya teringat dengan adik dari salah satu teman saya. Ia adalah salah satu calon mahasiswa di Universitas Tanjungpura tahun 2013 lalu. Saat itu dia dinyatakan lulus test di Fakultas MIPA. Tetapi saat mendaftar ulang, biaya yang harus dibayarkan cukup fantastis bagi dia yang orang tuanya hanya seorang buruh tani. Dia menangis penuh uraian air mata saat bercerita dengan saya, sehingga mau tidak mau dia harus mendekam impiannya untuk bisa kuliah di Universitas yang cukup ternama di Kalimantan Barat ini.