Rabu, 22 Maret 2017

Awareness Building Keberpihakan Kepada Petani Kecil


Nikodemus Niko
Mahasiswa Master Sosiologi—Universitas Padjadjaran
Ide ini disampaikan pada FGD kerjasama Pemkot Bandung, Pemkot Merauke dan Mata Garuda


Background
Pendekatan pembangunan daerah saat ini masih terkesan bersifat top-down, sedikit sekali implementasi pendekatan bottom-up. Semboyan “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” masih jauh panggang dari api. Pada dasarnya masyarakat lokal memiliki kapasitas untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembangunan (participatory development). Pendeketan sosio-kultural sudah seharusnya menempatkan masyarakat miskin dan masyarakat lemah (petani kecil) sebagai subjek/pelaku utama pembangunan. Pembangunan pertanian dalam rangka ketahanan pangan, masih direduksi ke dalam konteks ekonomi; padahal bisa saja dalam konteks sosial dan budaya.

Jumat, 03 Juni 2016

Ethnoecology

'Ethnoecology" emerged as that branch of the new ethnography which describes people's conceptual models of their environment. It is distinguished primarily by its subject matter, which includes classifications of plants (Berlin et al. 1974, Friedberg 1979), animals (Blumer 1957, 1967, Kesby 1979), land forms (Conklin 1967), and so on, and shares its methods and underlying premises with the broader field of 'cognitive anthropology' (Tyler 1969) to which it belong.

Source: https://inamuse.wordpress.com/2010/11/12/peralatan-sehari-hari-suku-wana-di-cagar-alam-morowali-1/ 

The frefix 'ethno-' is used to denote a field of knowledge defined from the viewpoint of the people being studied (Fowler 1977:216) and is similar in meaning to the term 'folk' (as in 'folk knowledge', 'folk model', 'folk medicine'). Thus, ethnoecology is a branch of 'ethnomedicine', 'ethnobiology' and so on. The use of the frefix 'ethno-' is essentially 'ethnocentric'; it impies that those bodies of knowledge not labelled 'ethno-', usually those generated by academic study in the 'western' tradition, are somehow privileged: 'Scientific knowledge, as we conceive it, has cross-cultural validity; ethnoscience, on the other hand, refers to knowledeg that is indigeneous to a particular language an culture' (Glick 1964:273).

Dimana Letak Kehadiran Negara?

Joko Widodo--Presiden Republik Indonesia
Source: http://gumilang.me/1302/profil-dan-biodata-joko-widodo-atau-jokowi/

“Kabinet Kerja” pada masa kepemimpinan Jokowi telah membangun citra positif bagi parlemen. Nawa Cita yang kemudian dibangun melalui elaborasi media massa, menempatkan kepemimpinan Jokowi di puji puja berbagai kalangan; mulai dari kalangan tukang sayur dan pemulung hingga kalangan elit. Pada prinsipnya, Nawa Cita membangun visi “menghadirkan kembali negara” dalam berbagai persoalan di negeri ini. Selain itu Nawa Cita juga membawa esensi “membangun dari pinggir”.
Permasalahan yang kemudian muncul yaitu, mengapa harus “menghadirkan kembali negara,” apakah selama ini negara tidak pernah hadir dalam mengatasi persoalan negeri? Menurut pandangan saya, tidak juga. Memang kehadiran negara saat kekuasaan rezim orde baru terepresentasi dalam tubuh militer, dimana terdapat hubungan yang tidak harmonis antara civil society dengan military society.

Senin, 09 Mei 2016

Pembagian Tanah Gratis di Kalimantan: Pengabaian Hak Rakyat Lokal

Oleh: Nikodemus Niko

Mahasiswa Sosiologi Pascasarjana Universitas Padjajaran

Sumber: www.triptrus.com

Program transmigrasi yang dicanangkan pemerintah pusat dengan mendatangkan penduduk dari pulau Jawa ke pulau Kalimantan sudah berlangsung sejak lama; sejak masa pemerintahan orde baru. Mengatasnamakan pembangunan dan kesejahteraan, pemerintah cukup berhasil menekan angka penduduk di pulau Jawa, salah satunya dengan adanya program transmigrasi. Pulau Jawa memiliki tanah yang subur untuk lahan pertanian, namun mengapa banyak rakyat pulau Jawa yang harus “diungsikan” ke pulau Kalimantan? Merujuk pada Undang-undang nomor 3 Tahun 1972, bahwasannya transmigrasi memiliki tujuan demografis, tujuan ekonomi dan pembangunan, serta tujuan pertahanan keamanan.

Sabtu, 23 April 2016

Surat Untuk Bapak Presiden Republik Indonesia

Pak presiden yang mulia, perkenankan saya memperkenalkan diri saya. Nama saya Florentina, saya seorang anak berumur 7 tahun saat ini sedang duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Saya bersekolah di SDN Nomor 21 Munguk Tawak, sebuah sekolah negeri yang terdapat di pedalaman pedesaan Kalimantan Barat. Setiap pagi saya pergi ke sekolah berjalan kaki dengan teman-teman saya di kampung, tidak seperti mereka yang bersekolah di perkotaan, yang biasa diantar oleh orang tuanya menggunakan mobil atau motor. Orang tua saya sudah berangkat ke sawah ketika saya pergi ke sekolah.

Jumat, 22 April 2016

#DearYou



Sulitkah sebuah alasan?

Ketika memang, kau dan aku tak kan mungkin menjadi kita.

Setidaknya ucapkan, mengapa harus meninggalkan luka.

Bukankah dahulu yang ingin selalu bersama adalah kau.

Minggu, 13 Maret 2016

Olivia dan Bayi Lelakinya: Nyanyian Sumbang dari Pedalaman Kalimantan

Nikodemus Niko
*Mahasiswa Sosiologi Pascasarjana Universitas Padjajaran

Sumber: http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160221_indonesia_un_prihatin_kebiri

Olivia (bukan nama sebenarnya) yang dipanggil Oli, gadis kampung yang melahirkan anak lelaki pertamanya sekitar tiga minggu yang lalu. Saya mengetahui hal ini setelah diberitahu oleh ayah saya di kampung. Oli adalah seorang anak dari kampung pedalaman di Kalimantan Barat, yang kebetulan adalah satu kampung dengan saya. Oli saat ini baru berumur 15 tahun, umur yang masih belia, dia berhenti sekolah di bangku kelas VII SMP empat tahun lalu. Jadi, jika Oli masih bersekolah saat ini, ia sudah duduk di bangku kelas X SMA. Namun sayang, nasib baik tidak berpihak kepadanya. Jarak sekolah yang jauh dari kampung, membuatnya enggan untuk pergi ke sekolah, apalagi dengan menggunakan sepeda. Jarak sekolah SMP yang berada di kecamatan cukup jauh dari kampung, sekitar satu jam dengan menggunakan sepeda.