Pak presiden yang mulia, perkenankan saya memperkenalkan
diri saya. Nama saya Florentina, saya seorang anak berumur 7 tahun saat ini
sedang duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Saya bersekolah di SDN Nomor
21 Munguk Tawak, sebuah sekolah negeri yang terdapat di pedalaman pedesaan
Kalimantan Barat. Setiap pagi saya pergi ke sekolah berjalan kaki dengan
teman-teman saya di kampung, tidak seperti mereka yang bersekolah di perkotaan,
yang biasa diantar oleh orang tuanya menggunakan mobil atau motor. Orang tua
saya sudah berangkat ke sawah ketika saya pergi ke sekolah.
Selamat membaca tulisanku....
About Me
Aku adalah manusia biasa yang masih belajar menulis dari jalanan.
Mulai tahun 2020, aku akan buat ulasan-ulasan tentang paper ilmiah dengan bahasa santai.
Selamat membaca...
Sabtu, 23 April 2016
Jumat, 22 April 2016
#DearYou
Sulitkah sebuah alasan?
Ketika memang, kau dan aku tak kan mungkin menjadi kita.
Setidaknya ucapkan, mengapa harus meninggalkan luka.
Bukankah dahulu yang ingin selalu bersama adalah kau.
Minggu, 13 Maret 2016
Olivia dan Bayi Lelakinya: Nyanyian Sumbang dari Pedalaman Kalimantan
Nikodemus Niko
*Mahasiswa Sosiologi
Pascasarjana Universitas Padjajaran
![]() |
| Sumber: http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160221_indonesia_un_prihatin_kebiri |
Olivia
(bukan nama sebenarnya) yang dipanggil Oli, gadis kampung yang melahirkan anak
lelaki pertamanya sekitar tiga minggu yang lalu. Saya mengetahui hal ini
setelah diberitahu oleh ayah saya di kampung. Oli adalah seorang anak dari
kampung pedalaman di Kalimantan Barat, yang kebetulan adalah satu kampung
dengan saya. Oli saat ini baru berumur 15 tahun, umur yang masih belia, dia
berhenti sekolah di bangku kelas VII SMP empat tahun lalu. Jadi, jika Oli masih
bersekolah saat ini, ia sudah duduk di bangku kelas X SMA. Namun sayang, nasib
baik tidak berpihak kepadanya. Jarak sekolah yang jauh dari kampung, membuatnya
enggan untuk pergi ke sekolah, apalagi dengan menggunakan sepeda. Jarak sekolah
SMP yang berada di kecamatan cukup jauh dari kampung, sekitar satu jam dengan
menggunakan sepeda.
Sabtu, 06 Februari 2016
Ceritaku: Hujan ditengah Gurun
Saat
ini aku telah usai menjalani semester pertama perkuliahan di kampus yang baru:
studi Master di salah satu universitas ternama di Indonesia. Jika menurut
peringkat terbaru, kampusku masuk lima besar kampus terbaik di “tanah air beta”
ini. Bangga dong bisa menempuh studi di kampus Top. Bukan saja hanya bangga tanpa
diikuti kualitas diri. Aku terus, terus dan terus memaksa diri untuk
menyesuaikan iklim pendidikan di tempat baru. *sambil sisiran didepan cermin
Padahal bagiku, kuliah S2 itu bak menemukan hujan ditengah gurun pasir: adem. Ayah, Ibu, I love them. Mereka yang menjadi sumber semangatku. Iya,
kuliah di pulau Jawa (dan lagi di kampus bagus) memang membawa tantangan
tersendiri bagi aku. Tadinya saat S1 aku juga kuliah di kampus Top di pulau
Kalimantan, ngerasa diri sudah maksimal banget dalam segala hal. Tapi nyata
nya, semua itu belum ada apa-apa nya, dan terasa ketika kuliah di pulau Jawa
yang penuh persaingan dan tentunya kerja keras. #ngunyahbeling
Jumat, 15 Januari 2016
Kesongkor Ka’k Baba’k Pintu’
*Nico Ajah
#SerialKisahCintaAnakDayakMali.
![]() |
| Foto: via http://www.fotografindo.com/gallery/351 |
Ari ujan’t abek, amei ngen, pas ken urek teng’k dio ko. Ko panai ayek? Ken urek
da sap amei, kunak nadama ko nghina, kunak nadama ko misoh. Ken pun ojo yak
bebuat ani-ani agik, ken hak mang na aja belaba. Suwai ngak nadama ko ayek
setuju ngan adep. Ko nana cantek, bala nadama ko na belaba, udah bala pengaya
rata. Nge, ken’t ha’k ani meh, jik tekek dudung’k nge, ayek berati ani-ani,
udip ken ngak masih numpangk ngan nadama ken’t.
Niat ate yak nyacah ko, kerena ken’t da sangat bener kaseh kak ko, sangat
bener sayangk kak ko. Jengen ngak meh ko, ken’t pun panai rati ko sayangk ngak
kak ken’t. Da memang tegel adep bekenal, da memang tegel adep bepegei, biasawa
sengak aja njumpa dingan duwe’k, pesti adep nyae.
Senin, 11 Januari 2016
Yuk! Mampir di Batang Tarang
Oleh: Nikodemus Niko
Jika
sahabat memiliki kesempatan untuk berkunjung ke pulau Kalimantan, apa yang
pertama akan sahabat jelajahi? Tidak ada salahnya jika mencoba mengunjungi Suku
asli pulau Kalimantan; Dayak. Dayak sendiri memiliki banyak sub-suku dengan
bahasa dan kebudayaan yang berbeda-beda, justru disinilah letak keunikannya.
Kekayaan budaya dan tradisi adat terdapat pada masing-masing sub-suku Dayak di
Kalimantan. Salah satunya Dayak Mali di Batang Tarang, Kalimantan Barat.
Batang
Tarang adalah sebuah ibu kota kecil Kecamatan Balai, Kabupaten Sanggau,
Kalimantan Barat. Memang, penduduk setempat lebih mengenalnya dengan sebutan
‘Balai’ yang artinya tempat berkumpul. Namun, masyarakat di luar kecamatan ini
mengenalnya dengan sebutan Batang Tarang, sebab banyak sebutan Balai yang
digunakan di Kabupaten Sanggau, misalnya Balai Karangan dan Balai Sebut yang
masih terletak di kabupaten yang sama; Sanggau, yang berbatasan langsung dengan
negara Malaysia. Masyarakat asli Batang Tarang adalah Etnis mayoritas Dayak
sub-suku Dayak Mali, dengan mata pencaharian utama sebagai petani. Nah, jadi
apa saja yang dapat dinikmati di daerah yang tidak padat penduduk ini?
Jumat, 01 Januari 2016
Trip Murmer ke Floating Market Lembang “Ngangkot”
*Nico
Ajah
Mengawali
perjalanan nge-trip kali ini, aku
perginya bersama teman-teman alias nggak sorangan
(sendiri). Dan kami akan melakukan perjalanan dengan naik angkot alias “ngangkot”. Rencana berangkat pagi
tergusur karena menunggu satu diantara kami yang terpaksa tidak datang tepat
waktu di meeting point, McDonal simpang dago, bandung, karena ada urusan dengan
dosennya. Jadilah kami menunggu selama satu jam setengah. Ekspektasi berangkat
jam 8 pagi menjadi jam setengah sepuluh. Aku yang kebetulan tinggal di Dago
atas, hanya naik angkot sekali saja (jurusan Riung-Dago atau Stasion-BIP-Dago
atau Kalapa-Dago) untuk mencapai meeting point ongkosnya Cuma Rp. 2.000.
Setelah semua kumpul, dan siap untuk berpetualang, kami berjalan menuju halte
di jalan babakan siliwangi. Disana sudah banyak angkot yang nge-tem untuk tujuan Caheum-Ledeng. Kami
naik, dan untuk mencapai terminal Ledeng yang letaknya tidak jauh dari kampus
UPI (universitas pendidikan indoensia). Sekitar satu jam di perjalanan, karena
kondisi jalan begitu macet. Ongkos angkotnya Cuma Rp. 5.000 per orang.
Langganan:
Postingan (Atom)

