Hari masih siang bolong, rasanya mimpi aja nih berada di Bangkok lagi. Aku sempat tidak percaya aku ke Thailand. Hahaha..... Ini karena dewi fortuna sedang berada di pihakku. Negara yang ingin aku kunjungi lagi, dan lagi adalah Thailand. Bahkan kalau yang memiliki skenario hidup menitipkanku hidup dan bekerja di Thailand aku mau banget. Hehehe....
Menyambung ceritaku pada posting sebelumnya. Setelah dari Pattaya, aku move ke Bangkok selama 5 hari. Ngapain aja di Bangkok selama itu, aku tidak bisa menguraikan jawabannya, karena aku benar-benar menikmati setiap sudut kota ini dengan berjalan kaki. Aku menginap di wilayah Silom Rd, pusat kota. Jadi kemana-mana bisa berjalan kaki, meski rute nya mutar dan jauh-jauh. Tapi, yang paling penting adalah mencicipi kuliner pinggir jalan yang murah meriah. Meski backpackeran, tetap dapat menikmati sesuatu yang unik dan murah meriah. Ini dia, aku sajikan beberapa makanan khas di Bangkok yang wajib kamu cicipi. Yuk disimak.......
Selamat membaca tulisanku....
About Me
Aku adalah manusia biasa yang masih belajar menulis dari jalanan.
Mulai tahun 2020, aku akan buat ulasan-ulasan tentang paper ilmiah dengan bahasa santai.
Selamat membaca...
Jumat, 07 Juli 2017
Lost in Pattaya, Thailand
Pattaya adalah salah satu kota kecil yang wajib kamu kunjungi ketika di Thailand. Kota ini tidak begitu jauh dari Bangkok, ibukota negara Thailand. Sekitar 3-4 jam perjalanan darat, bisa menggunakan Bus umum, Uber atau Grab, Shuttle bus, dan pesawat tentunya. Pada perjalananku kali ini aku memilih menggunakan Bus umum yang warna biru, khas sekali. Jalur Bus umum ini bisa dari Terminal Mo Chit atau bisa dari Terminal Ekkamai. Berhubung aku penerbangan dari Jakarta-Bangkok menggunakan Thai Lion Air, jadi landingnya di Don Mueang Airport. Menurut beberapa referensi blog yang aku baca, tidak ada bus langsung dari bandara ke Pattaya. Kecuali jika landing di Suvarnabhumi Airport, bisa langsung ke ground 1 dan naik bus langsung ke Pattaya.
Setelah melewati imigrasi untuk cap paspor, aku langsung menuju pintu keluar 1 (tulisannya: exit 1) untuk mencari shuttle bus bandara menuju kota Bangkok. Tadinya mau nunggu, ternyata bus nya sudah mejeng di depan mata. Jadinya gak capek-capek menunggu (karena menunggu itu shakitt... Hikzz). Shuttle bus A1, jangan salah nomor bus nya. Shuttle A1 ini trayeknya Mo Chit BTS, dan terakhir Mo Chit Bus Terminal. Kalau A2 bisa langsung ke pusat kota, seperti Lumpini Park, Pratunam Market, dll. Nah, ketika bus tiba di Mo Chit BTS, penumpang pada bubar, bus seketika sepi, hanya tersisa 3 penumpang saja.
Setelah melewati imigrasi untuk cap paspor, aku langsung menuju pintu keluar 1 (tulisannya: exit 1) untuk mencari shuttle bus bandara menuju kota Bangkok. Tadinya mau nunggu, ternyata bus nya sudah mejeng di depan mata. Jadinya gak capek-capek menunggu (karena menunggu itu shakitt... Hikzz). Shuttle bus A1, jangan salah nomor bus nya. Shuttle A1 ini trayeknya Mo Chit BTS, dan terakhir Mo Chit Bus Terminal. Kalau A2 bisa langsung ke pusat kota, seperti Lumpini Park, Pratunam Market, dll. Nah, ketika bus tiba di Mo Chit BTS, penumpang pada bubar, bus seketika sepi, hanya tersisa 3 penumpang saja.
Selasa, 20 Juni 2017
How to Survive in Bangkok, Thailand (4)
Bangkok, ibu kota Thailand yang sangat tersohor. Banyak yang menyebutnya sebagai shopping paradise, sex of the city, dan macam-macam. Pada dasarnya kota tersebut menganut sex bebas. Bukan ini intinya, melainkan tempat yang aku kunjungi di Bangkok.
Day 1. di Bangkok
Seperti misi ku, kemana-mana jalan kaki. Jadi hari pertama aku sudah jalan kaki di Bangkok. Bangkok adalah kota yang ramah pejalan kaki, trotoarnya sangat bagus dan manusiawi. Dari Silom Rd, aku menelusuri sepanjang jalan menuju Chulalongkorn University, hampir setengah hari aku berkeliling di universitas yang tersohor di negeri gajah tersebut.
Day 1. di Bangkok
Seperti misi ku, kemana-mana jalan kaki. Jadi hari pertama aku sudah jalan kaki di Bangkok. Bangkok adalah kota yang ramah pejalan kaki, trotoarnya sangat bagus dan manusiawi. Dari Silom Rd, aku menelusuri sepanjang jalan menuju Chulalongkorn University, hampir setengah hari aku berkeliling di universitas yang tersohor di negeri gajah tersebut.
How to Survive in Bangkok, Thailand (3)
Setelah 4 hari di Pattaya, hari kelimanya aku langsung move ke Bangkok. Disanalah pertualangan sebenarnya. Dari Pattaya ke Bangkok menggunakan bus ekonomi seharga 117 Bath dengan tujuan akhir di Terminal Ekkamai. Terminal ini yang terdekat dengan pusat kota, berbeda dari Terminal Mo Chit yang sangat jauh dari pusat kota Bangkok.
Perjalanan dari Pattaya ke Ekkamai sekitar 3-4 jam. Setelah tiba di terminal Ekkamai aku langsung nyari taksi buat ke hostel. Aku menginap di daerah Silom Rd, dari terminal Ekkamai naik taksi dengan harga 110 Bath (ini jadi kurang lebih harga bus). Sebenarnya akan lebih murah jika kita mengetahui nomor-nomor bus kota yang ada di Bangkok. Karena aku takut nyasar, jadi milih taksi aja. Setahun lalu, saat aku ke Bangkok naik taksinya tidak semahal sekarang. Apa BBM pada naik yak?
Penginapan di Silom sangat strategis banget. Nama hostelnya Mad Cow Hostel Silom. Aku menginap disana selama 5 malam dengan harga total 600 Bath, atau kalau dirupiahkan sekitar 250ribu. Jadi semalamnya seharga 50ribu. Kamarnya cukup nyaman, bed tingkat sebanyak 5 dalam satu kamar. Jadi isi sekamar 10 orang kalau bed nya penuh. Penjaga hostelnya orang Malaysia, jadi bisa bercakap dengan bahasa Melayu.
![]() |
| Hallo Again Bangkok. :) |
Perjalanan dari Pattaya ke Ekkamai sekitar 3-4 jam. Setelah tiba di terminal Ekkamai aku langsung nyari taksi buat ke hostel. Aku menginap di daerah Silom Rd, dari terminal Ekkamai naik taksi dengan harga 110 Bath (ini jadi kurang lebih harga bus). Sebenarnya akan lebih murah jika kita mengetahui nomor-nomor bus kota yang ada di Bangkok. Karena aku takut nyasar, jadi milih taksi aja. Setahun lalu, saat aku ke Bangkok naik taksinya tidak semahal sekarang. Apa BBM pada naik yak?
Penginapan di Silom sangat strategis banget. Nama hostelnya Mad Cow Hostel Silom. Aku menginap disana selama 5 malam dengan harga total 600 Bath, atau kalau dirupiahkan sekitar 250ribu. Jadi semalamnya seharga 50ribu. Kamarnya cukup nyaman, bed tingkat sebanyak 5 dalam satu kamar. Jadi isi sekamar 10 orang kalau bed nya penuh. Penjaga hostelnya orang Malaysia, jadi bisa bercakap dengan bahasa Melayu.
How to Survive in Bangkok, Thailand (2)
Day 1, di Pattaya.
Aku di Pattaya sebenarnya tidak sedang travelling melainkan mengikuti International Forum mewakili Indonesia, dan untuk hal ini di danai oleh suatu lembaga. Namun, aku berangkat ke Pattaya H-2 penyelenggaraan conference, jadi harus bayar penginapan pribadi selama dua malam. Aku rekomendasikan penginapan Le Private Hostel, selain murah juga strategis lokasinya, tidak jauh dari pantai. Per-malam untuk penginapan di hostel ini 90-an ribu rupiah, untuk kamar private dengan kipas angin. Kamarnya luas, bisa muat berdua, jadi bisa sharing bayar penginapan.
Aku di Pattaya sebenarnya tidak sedang travelling melainkan mengikuti International Forum mewakili Indonesia, dan untuk hal ini di danai oleh suatu lembaga. Namun, aku berangkat ke Pattaya H-2 penyelenggaraan conference, jadi harus bayar penginapan pribadi selama dua malam. Aku rekomendasikan penginapan Le Private Hostel, selain murah juga strategis lokasinya, tidak jauh dari pantai. Per-malam untuk penginapan di hostel ini 90-an ribu rupiah, untuk kamar private dengan kipas angin. Kamarnya luas, bisa muat berdua, jadi bisa sharing bayar penginapan.
Kamis, 15 Juni 2017
How to Survive in Bangkok, Thailand (1)
Aku melakukan perjalanan ke Thailand bukan karena disengaja, melainkan insiden, yang sama sekali tidak aku persiapkan dengan matang. Aku menghadiri international research forum yang bertempat di Pattaya, dan aku berpikir, rasanya tidak afdol jika ke Thailand tanpa singgah di Bangkok. Persiapan perjalanan ini hanya aku siapkan dalam waktu dua hari, H-2 beli tiket pesawat dan H-2 booking hostel. Jadi, kota yang aku tuju adalah Bangkok dan Pattaya.
Kamis, 04 Mei 2017
Mengapa Penting Menulis Jurnal Ilmiah?
Menulis jurnal adalah suatu kewajiban bagi akademisi; dosen dan mahasiswa. Termasuk kewajiban bagi peneliti. Banyak yang mengatakan bahwa: "hasil riset, pemikiran kritis, akan bermanfaat lebih jika di publish dalam bentuk jurnal ilmiah". Selain menjadi kebaruan dalam bidang ilmu tertentu, juga merupakan bentuk penghargaan karya dalam bentuk publikasi ilmiah. Bagi dosen, menulis jurnal adalah suatu kewajiban untuk menuangkan pemikiran mereka selain mempublikasikan hasil riset. Kemudian, bagi mahasiswa menulis merupakan kewajiban juga, yang mana tugas/karya akhir seorang mahasiswa berupa tulisan skripsi/tesis/disertasi.
Langganan:
Postingan (Atom)
